Pendidikan Bukan Pengajaran untuk Memajukan Manusia Indonesia

mimin MAJOUR STORIES3 Comments

Manusia Indonesia merupakan sumber daya yang akan mempengaruhi nasib

bangsa Indonesia mendatang. Akan tetapi keadaan saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia hanya berada pada peringkat 124 dunia dan

peringkat 6 ASEAN setelah Thailand dan Filipin. Angka ini tergolong rendah meski mengalami sedikit peningkatan dari tahun sebelumnya, yaitu dari 0,613 menjadi 0,617.

Membiarkan kualitas manusia Indonesia rendah berarti juga membiarkan kemajuan bangsa menjadi impian belaka. Manusia Indonesia lah yang akan membangun bangsa, maka manusia ini harus dibangun terlebih dahulu. Bagaimana caranya? Saya adalah orang yang sangat percaya bahwa membangun sumber daya manusia untuk bangsa Indonesia ini dapat ditempuh melalui jalan pendidikan.

Indeks Pembangunan Manusia yang telah disinggung di atas dilihat dari taraf pendidikan, kesehatan, dan kemampuan daya beli. Pendidikan menjadi tolok ukur indeks pembangunan manusia suatu negara tentunya merupakan alasan bahwa pendidikan memang dapat membangun manusia.

Pertanyaan selanjutnya, pendidikan yang seperti apa? Pendidikan yang memiliki tujuan untuk memperbaiki kualitas manusia baik secara skill maupun moral. Bukan hanya pendidikan yang mencetak para pekerja. Pendidikan yang menekankan proses pembelajaran seutuhnya, penanaman moral yang menunjukkan manusia sebagai makhluk mulia bukan hanya pencari nilai belaka.

Langkah nyata untuk mewujudkan pendidikan seperti itu adalah dengan membenarkan proses belajar mengajar di dalam kelas. Tengok ke tembok-tembok sekolah kita. Cermati bagaimana proses yang terjadi di dalamnya. Sudahkah interaksi guru dan murid merupakan transfer of knowledge dan pembentukan pribadi-pribadi unggul yang benar-benar terdidik? Pendidik tentu memegang peranan penting dalam mensukseskan keberhasilan pendidikan ini. Guru seharusnya berperan sebagai fasilitator yang terus membantu siswa mengembangkan minat belajarnya bukan hanya sekedar mengembangkan pengetahuannya.

Selain pendidik, proses memajukan manusia Indonesia melalui pendidikan juga didukung dengan perhatian pemerintah terhadap pendidikan ini. Pengaliran dana pendidikan diatur sedemikian rupa sehingga tepat sasaran dan penuh keterbukaan. Sosialisasi program-program pemerintah dilakukan secara maksimal ke semua kalangan sehingga masyarakat luas pun dapat turut melakukan pengawasan.

Masyarakat pun tak boleh apatis jika menemukan masalah terkait dengan pendidikan. Sebuah teladan yang baik di Jawa Timur beberapa waktu lalu ketika orang tua murid rela dikucilkan di masyarakat ketika melaporkan kasus pencontekan. Setiap warga bertanggung jawab terhadap proses pendidikan yang ada, sehingga ketika menemukan ketidakwajaran dalam pendidikan tidak boleh pula bersikap mewajarkannya. Meski itu hanya masalah di dalam ruang kelas yang terhitung lingkup kecil sampai masalah korupsi anggaran dana fasilitas dalam lingkup yang lebih besar.

Sinergisasi pendidik, peran serta masyarakat, dan dukungan pemerintah menjadi faktor-faktor pendukung berhasilnya pendidikan Indonesia. Hasil dari insan yang terdidik secara benar dan utuh adalah manusia tangguh yang mampu menghadapi berbagai tantangan zaman. Mampu mengelola sumber daya yang ada dengan pengetahuan dan kemampuannya. Sanggup bersikap sesuai norma dan menghindari hal-hal yang mendegradasi nilainya sebagai manusia. Insan-insan seperti ini lah yang akan membawa kejayaan Indonesia dan hanya dapat dilahirkan dari proses pendidikan yang benar bukan sekedar proses pengajaran.

Writer: Rina Noviyanti (Public Relation Member of YEP!)

3 Comments on “Pendidikan Bukan Pengajaran untuk Memajukan Manusia Indonesia”

  1. Andry

    Setuju sekali, hal penting yang menentukan maju atau tidaknya suatu bangsa adalah Pendidikan. Di negara maju, pemberian support ke ranah pendidikan tidak hanya selalu bermuara ke proses belajar mengajar di kelas, tetapi juga diluar kelas. Proses belajar dan pengembangan kepribadian diluar kelas sangat diperhatikan, pihak swasta dan pemerintah bahu membahu membangun hal seperti ini, contohnya pembangunan asrama siswa/mahasiswa yang sangat memadai layaknya hotel, sehingga siswa dapat belajar dengan baik, pendirian perpustakaan yang memadai dan bisa membuat betah pengunjungnya..
    dan seharusnya sistem pendidikan kita punya grand desain yang baku, tidak setiap ganti menteri pendidikan, harus ganti sistem lagi…Keep inspiring youth Yep’ers

    1. Rudi

      apakah parameter pendidikan itu berasal dari fasilitas? Bukankah sekolah2 skrng di Indonesia skrng ber lomba2 menjadi RSBI, membuat sekolahnya jd internasional, menambah AC, mengganti Meja, kursi, perpusa, komputer, dan proyektor dsb~ Tetapi hasilnya akan sama saja saat tidak diimbangi dengan SDA, kurikulum, dan sistem pendidikan yang memadai..

  2. Rudi

    Setuju banget. Gausa jauh2, kita bisa liat SDA (guru) nya itu sendiri msh jauh banget. Msh berpikiran konservatif, dsbnya. Bagaimana bias berkespektasi siswa2 ter didik jika guru nya saja msh ketinggalan jaman dan kurang kompeten. Ditambah lagi dengan kurikulum pemerintah Indonesia yang memiliki masalah yang sama. Dibandingkan dengan kurikulum luar negri, terutama kurikulum barat, dimana kurikulumnya lebih menekankan ke logika, thinking skill, studi kasus, dan problem solving.. Sebaliknya dengan Indonesia yang lebih menekankan kepada hapalan dan hapalan, ditambah lagi dengan sikap Orang tua dan sekolah yang cenderung score-oriented. Dimana rapot dan nilai ulangan menjadi parameter segala hal dan kesuksesan masa depan. Apakah kita hanya hidup dari rapot? dan nilai UAS? Apakah orang yang rapot dan UAS nya jelek akan mempunyai masa depan yang suram? Apakah anak IPS memiliki tingkat intelejen yang dibawah anak IPA? contohlah kurikulum luar, yang lebih mementingkan bakat daripada hanya sekedar nilai rapot. Di jerman penjurusan kelas bukan berdasarkan nilai yang bagus atau jelek, melainkan minat dan bakat, ditambah lagi dengan penjurusan yang jauh lebih cepat drpd Indonesia, disana anak2 lulus SD sudah harus memmilih berminat jd apa, dan akan terjun ke dunia apa, sehingga fokus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *